Amores Perros, menurut my spanish speaking friend, artinya: fucking love. Do you know how some relationships are like semakin pedih semakin nagih?Atau semakin sakit jiwa semakin ngga bisa lepas? Untungnya gue bukan tipe yang begini, dan gue selalu nggak habis pikir sama orang-orang yang ngejalaninnya. Namun demikian, hubungan semacam inilah yang gue alami dengan Indonesia. Semakin ribet negeri ini, semakin pedih rasanya hati gue, tapi semakin cinta. Sedikit masochistic. Dulu gue pernah baca artikel tentang Sydney Jones sesaat setelah dia ditendang dari Indonesia, on answering how she felt about Indonesia she said ‘hati saya terperangkap di Indonesia’. Setelah pulang dari rantau, gue baru mengerti kenapa Sydney Jones bisa ngomong gitu.
Macet, rampok, vandalism, polusi, preman, sogok, suap, korup, males, miskin, bodoh, panas, lembab, kotor, bau, extrimis. Sebut sejuta hal jelek lagi juga masih bisa. Seringkali kita lupa yang baik-baiknya. Seringkali kita nggak fair menjudge bangsa sendiri sehingga kita benci dan frustrasi. Seringkali kita lupa (or worse: nggak tau) bahwa semua masalah tersebut di atas, bukan cuma problem Indonesia kok. Kita bukan spesialis yang jelek-jelek. Mostly masalah-masalah tersebut dihadapi juga oleh negara-negara berkembang all over the world.
Macetnya Jakarta, semua kota besar dunia juga macet..you name it New York, Sydney, Bogota, Sao Paolo. Chaos di jalanan, di India orang nyetir mobil spionnya ditekuk. Rampok, tindak kriminal, bukan kita kok bangsa paling bejat di dunia. Liat deh rebels Sierra Lione yang nyulik anak-anak pitik untuk dijadiin tentara. Polusi, Australia adalah carbon contributor tertinggi di dunia (per kapita). Korup, Philippines, US jaman mafia-mafia. Extrimis, berapa persen sih dari kita yang extrimis? Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar, tapi demokratis nggak kayak Emirates, moderat nggak seperti Iran yang pernah memaksa semua wanitanya berjilbab, atau Afghanistan dengan burqa nya. Panas, well…if we’ve lived in Norway where it can reach minus 41 Celcius, I think we’ll appreciate the heat and humidity more. Miskin, ketimpangan pendapatan, pada umumnya sering dijumpai di developing countries memang. Bukan kita sendirian aja yang lagi ribet. Meski rada miskin, tapi liat our progress: post US mortgage crisis, and world trade decline, hanya Cina, Australia dan Indonesia yang pertumbuhan ekonominya positif.
What I’m trying to say is, yes we have heaps –if not infinite- problems, but hey..every country has problems. Ini kenapa studi komparatif, dan keluar dari tempurung (eg. merantau, talk to people, baca ) menjadi sangat penting. Setelah merantau, gue merasa lebih bisa menerima dan mengkritik dengan lebih fair. For example I can say, yes kitasuka bodoh karena…. Yes kita korup karena…. Yes kita kepo karena… Yes kita suka nggak pede karena…Yes keluarga besar kita ikut campur menentukan kita sekolah di mana dan kawin sama siapa. Selain itu, gue juga jadi mensyukuri things that I’ve been taking for granted di Indonesia: Alhamdulillah Negara nggak maksa gue make burqa…Alhamdulillah kakak gue boleh pake jilbab di tempat umum…Alhamdulillah gue bisa akses youtube… Alhamdulillah di SMA meski tawuran kaga ada random shooting kayak di Columbine High… Alhamdulillah Negara ini nggak obesitas karena makannya nasi sama tempe sama lalap… Alhamdulillah nanti kayaknya gue ngga akan dibuang ke panti jompo sama anak gue…Alhamdulillah SBY bukan Chavez. Kata-kata Margaret Mead di bawah ini gue rasa melukiskan perasaan gue, hence it has been my favorite quote for a while now:
As the traveler who has once been from home is wiser than he who has never left his own doorstep, so a knowledge of one other culture should sharpen our ability to scrutinize more steadily, to appreciate more lovingly, our own (Margaret Mead, anthropologist 1901-1978).
What I’m also trying to say is, yes we have heaps of problems, but they’re not impossible to solve and we are capable of change. If we look at Eropa, Amerika…mereka yang sudah lebih lama merdeka (kemudian menjajah kita, terimakasih) juga pernah melewati malaise kok, masa-masa kegelapan dan kebodohan, krisis ekonomi, penegak hukum korup. Tapi bisa kan mereka keluar dari itu semua menjadi bangsa yang lebih baik?
Setelah 17 Agustus tahun ini, semoga bangsa ini bisa lebih fair in judging itself supaya lebih optimis dan gak suicidal. Scrutinize more objectively, jangan lagi kayak Megawati noh, yang Cuma bisa nyela-nyela pake pernyataan retoris ‘Bangsa ini makin hannnnncuRRR’ ‘Rakyat ditipu teruSSS’ atau ‘Pidato SBY dataRRR’.
Semoga bisa lebih menghargai hal-hal indah tentang Indonesia yang kita take for granted selama ini. Bukan berarti kita nerima aja keadaan yg belom ideal ini tanpa berusaha untuk berubah. ‘It may be necessary to temporarily accept a lesser evil, but one must never label a necessary evil as good’ kata missus Mead lagi. Sekarang emang Korup, tapi kita bisa kan ngga nyogok kedepannya? Sekarang emang kotor, tapi kita bisa kan nggak buang sampah sembarangan lagi? Sekarang emang kita ribut soal gereja seperti warga New York ribut soal mesjid, tapi di masa depan bisa kan kita saling bilang ‘build that church!’ atau ‘build that mosque!’.
Kata Goenawan Mohammad di tweetnya pagi ini, ‘tanah air itu adalah takdir dan tugas sejarah kita’. Mau nggak mau, suka nggak suka…kita mesti ikutan membuatnya lebih baik. Memang medan ekstrim luarr biasa, tapi semoga kita bisa belajar dari gigihnya pejuang-pejuang kemerdekaan, yang melawan selama 3.5 abad. Bayangin kalo di Abad ke 2.5 mereka nyerah.